sapaan

LAMPUNG MERUPAKAN WILAYAH YANG INDAH SERTA STRATEGIS. UNTUK ITU MARILAH KITA LAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK LAMPUNG "SYAIFULLOH MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG DALAM SEBUAH PERUBAHAN"

hanya untuk anda

Wednesday, July 27, 2011

ini satu lg ilmunya pokoknya anak smansa tdk bosan2 memberi ilmu pada kita semua oke oke



Kajian Tentang Struktur Kerajaan Sunda


 Struktur sosial-politik Indonesia dalam empat jenis, yaitu struktur maritim dan agraria denganSriwijaya dan Mataram I sebagai contoh pokok, dan struktur marga dan pegunungan dengan contoh ma­syarakat marga sebagai "embrio" kerajaan pegunungan Sunda, menarik perhatian.
 Bilamana Sriwijaya dan Mata­ram I mendapat perhatian khusus, tentu berdasarkan lebih ba-nyak data yang tersedia, terutama dari prasasti-prasasti yang bersangkutan. Sedangkan untuk masyarakat marga dan kerajaan pegunungan tak banyak berita epigrafi yang dapat menolong pengamatan kita.
Sedangkan yang disebut kerajaan/struktur pegunungan, terutama mengenai Sunda sementara ini rupanya terpaksa kita terima istilah tersebut sambil menunggu hasil penelitian pe-nemuan baru. Namun patut di-ingat bahwa golongan struktur yang disebut pegunungan, untuk Sunda itu, rupanya tak selama berpusat ke gunung. Kerajaan tertua di Jawa, yaitu Tarumana-gara, kemungkinan besar kera­jaan pesisir, maritim, walaupun belum diteliti dengan baik masa jayanya serta hubungannya dengan Srivijaya. Berita yang ter­sirat dalam prasastTKota Kapur, di Pulau Bangka, saka 608, ten­tang sebuah expedisi militer Sri­vijaya yang baru berangkat me-lawan "tanah Jawa yang tak mau takluk kepada Srivijaya", dan yang sampai sekarang belum dapat dipastikan Jawa yang mana, kemungkinan besar adalah bagian barat dari Jawa itu, meng-ingat bahwa utusan dari to-lo-mo, yaitu Taruma, tak disebut lag! dalam Tarich Cina (dinasti Liang
dan T'ang) dan nieagingat juga prasasti Kebon Kopi, saka 845 (dan bukan 854), yang. me-ngatakan dalam bahasa Melayu Kuna bahwa wilayah kekuasaan Raja Sunda dikembalikan kepa-danya. (COEDES: 1930; BOSCH:1941).
Dengan demikian, berdikari atau berada di bawah kekuasaan Srivijaya, Sunda berpaling ke laut, dari pesisir atau dari pegu­nungan. Memang, antinomi laut/-gunung sudah umum disorot oleh antrhopologi. Laut menimbulkan kuasa temporer, sedangkan gu­nung menandai kuasa spiritual. Dan Sunda merupakan contoh yang memadukan dua antinomi tersebut. Kerajaan Sunda mana-pun di pedalaman mempunyai bandar yang karenanya, mem-perkaya kuasa politiknya. Taru-managara berpusat di pedalam­an, antara muara Citarum dan Banten. Galuh berpusat di peda­laman, berperang dari Timur ke Barat sampai menyeberang jauh ke Cina. Pancaran atau mungkin Pecahan dari Galuh, yaitu Paja-jaran, berpusat di pegunungan, berkuasa karena Kalapa dan se-kian banyak kerajaan sahabat sepanjang Pasisir Utara dan Se-latan. Belum lagi semua Kesul-tanan Islam yang mengambil alih kedudukan istimewa yang dimi-liki bandar-bandar tersebut sebe-lum Islamisasi, sebagaimana juga diingatkan oleh Pak Ong, antara lain Banten dan Cirebon, yang dapat menyilaukan Pajajaran dan Sindangkasih / Singapura / Talaga.  Dengan demikian, dengan berpu­sat di gunung, kerajaan Sunda mendasarkan kekuasaannya atas pusat spiritual yang berada di gunung. Gunung, sejak purbaka-la, adalah tempat dewa, Olympus
atau Parahiyangan. Teks lama mejigutarakan gunung sebagai pusat keagamaan Buddha Ma-hayana dengan menyebut setiap gunung, setiap bukit yang meng-andung unsur agama, baik berupa tempat pertapaan, kewikuan, ataupun tempat keramat, ter­utama dalam teks Ratu Pakuan (Atja: 1970; Sunarto - Sukanda: 1983). Penelitian saya sendiri membuktikan bahwa hampir se­tiap bukit, setiap kabuyutan harus dianggap sebagai pening-galan purbakala, baik karena kramatnya, arkeologinya, pa-tungnya, naskah lamanya, ma-kamnya ataupun dongengnya, paguron tradisionalnya, aliran kepercayaannya atau pusat studi Islamnya. Gunung Padang, Dayeuhluhur, Sanghyang, Gu­nung Jati, Gunung Masigit, Gu­nung Andayasakti dan sekian banyak tempat ziarah yang kra-mat di gunung-guming di Tatar Sunda. (Sukanda 1974, 1977, 1982-83). Akan tetapi, struktur politik yang berabad-abad dapat dikatakan maritim, sebenamya sampai sekarang masih tersirat dalam cukup banyak peninggalan budaya. Antara lain, dapat dilihat dalam kesusastraan Sunda lisan. Pantun-pantun selalu menyebut penyebrangan laut, peranan laut dalam hubungan antarkerajaan dengan dua nama yang sering disebutrsebut, yaitu Palembang dan Ball.
Apalagi dalam sastra tulis be­rupa Naskah lama, baik dalam aksara maupun dalam Pegon berupa wawacan atau karya
sastra lain. Di sini, saya hanya mengingatkan peranan laut daiam sekian banyak karya Sunda Lama, di antaranya, "Wa­wacan Ogin atawa Raden Amar-sakti". Putra mahkota tersebut adalah bayi yang ditemukan di pantai, kemudian dipungut oleh Raja Jin yang "memiliki tujuh gunung", di antaranya Gunung Emas, Tembaga, Perak sebagai gambar kekayaan abadi, sedang­kan raja tersebut "menguasai semua lautan." Itulah sebabnya bayi tersebut dinamakan Raden Samudra Somaningrat (soma: hari kedua dalam saptawara). Contoh lain kita dapatkan dalam teks Cariosan Prabu Silihwangi, di mana kekuasaan politik kera­jaan Pajajaran berdasarkan bebe-rapa kerajaan sahabat di Pasisir, misalnya kerajaan Singapura, Pontang dan Sindangkasih. Seo-rang nakoda dari Palembang memainkan peranan yang pen-ting dalam teks tersebut.
Dalam pada itu, satu segi lain yang sangat menonjol dalam ke­susastraan Sunda Lama, adalah soal budak belian, budak hitam, yang selalu memperlihatkan exis-tensinya, baik di laut maupun di kraton. Peranan "budak" dalam masyarakat lama belum menda­pat sorotan, walaupun justru menghubungkan kehidupan di pantai / laut / seberang dengan kehidupan di kraton / pedalaman / gunung. Contoh tersebut, antara lain, kita ambil dari teks Cariosan Prabu Silihwangi juga. Sedang­kan menurut berita Epigrafi an­tara lain (prasasti Kota Kapur)
soal budak sering sekali disebut-sebut. Kehadirannya tersirat dalam kesusastraan Lama yang dapat memelihara bukti budaya lama, dengan tokoh utama yang sering mengalarni percobaan rohani/jasrnani dengan cara men-jadi budak hitam/manusia hina, sebagai sarana utama untuk mencapai kemenangan, baik spi­ritual maupun duniawi. Menjadi pengembara dalam ben-tuk budak belian (incognito seo-rang penting dalam suatu keraja­an), atau sebagai "ksatria lalana", merupakan juga cara lama yang paling sering digunakan, dalam peradaban lama, untuk me-nebalkan kekuatan seorang calon raja, misalnya Ciung Wanara, Si-' lihwangi, Ogin, Kamandaka, Bu-jangga Manik, dll.)
Dengan demikian, berpaling lagi kepada epigrafl serta beberap ateks, kita akan mendapat bukti bahwa dasar struktur sosisl poli­tik Sunda di masa silam, saling menjalin hubungan yang erat sekali antara dua unsur alamiah yang berada di bagian Pulau Jawa itu, yaitu Selat Sunda, dan gu­nung, ditambah dengan sawah yang subur. (bukan "manusia ladang" menurut penganut theori Wertheim).
Itulah yang dapat menjadi titik tolak untuk menimbang dengan baik pertalian antara "struktur kerajaan maritim", "struktur pegunungan" dan "struktur agra­ria" terutama antara Srivijaya dan Sunda.***



















Historiografi
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/32/Padrao_sunda_kelapa.jpg/150px-Padrao_sunda_kelapa.jpg
Description: http://bits.wikimedia.org/skins-1.17/common/images/magnify-clip.png
Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka (536 Masehi). Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut:
Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda.
Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka (932 Masehi) karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, di era Kerajaan Tarumanagara (358-669 AD ).
Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti (menurut Pleyte):
Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 (1030 M), bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua.
Tanggal prasasti Jayabupati diperkirakan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952-964) saka (1030 - 1042AD).
Catatan sejarah dari Cina
Menurut F. Hirt dan WW Rockhill, ada sumber-sumber berita Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, inspektur perdagangan dengan negara-negara asing, Chan Ju-kua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, Chu-fan-chi, yang ditulis dalam tahun 1178-1225 Masehi, menyebutkan pelabuhan air di Sin-t'o (Sunda). Chu-fan-chi melaporkan bahwa:
Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian, rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat dengan papan kayu yang diikat dengan rotan. Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun, dan memotong rambut mereka sampai panjangnya setengah inci. Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil, tetapi berat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban, Jawa Timur). Negara ini menghasilkan labu, tebu, telur kacang dan tanaman.
Buku berbahasa Cina "shun-feng hsiang-sung" dari sekitar 1430 AD mengatakan:
Dalam perjalanan ke arah timur dari Sunda, sepanjang pantai utara Jawa, kapal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai Kalapa, mereka kemudian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu), akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melewati Kalapa, melewati Indramayu, melewati Cirebon.
Catatan sejarah dari Eropa
Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kerajaan Sunda oleh kekuatan Kesultanan Banten. Salah satu penjelajah itu adalah Tome Pires dari Portugal. Dalam laporannya "Summa Oriental (1513 - 1515)" ia menulis bahwa:
Beberapa orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa; sebagian lagi mengatakan bahwa Kerajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya.
[sunting] Berdiriya kerajaan Sunda
Menurut Naskah Wangsakerta dari Cirebon, sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).
[sunting] Federasi antara Sunda dan Galuh
Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.
Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.
Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan Pajajaran, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.
Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.
Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).
Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.
Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). Rakryan Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).
Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Airlangga (1019-1042).
Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.
Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur saat Perang Bubat. Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/b/b1/Pr_AG.jpg/200px-Pr_AG.jpg
Description: http://bits.wikimedia.org/skins-1.17/common/images/magnify-clip.png
Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).
Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.
Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh
Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):
1.       Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
2.       Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3.       Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4.       Rakeyan Banga (739 - 766)
5.       Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6.       Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7.       Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8.       Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9.       Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10.   Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11.   Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12.   Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13.   Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14.   Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15.   Munding Ganawirya (964 - 973)
16.   Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17.   Brajawisésa (989 - 1012)
18.   Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19.   Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20.   Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21.   Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22.   Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23.   Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24.   Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25.   Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26.   Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27.   Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28.   Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29.   Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30.   Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31.   Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32.   Prabu Bunisora (1357-1371)
33.   Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34.   Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35.   Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36.   Prabu Surawisésa (1521-1535)
37.   Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38.   Prabu Sakti (1543-1551)
39.   Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40.   Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)


No comments:

Post a Comment